Lab
fisika, 27 February 2013
***
Sinar mentari mengintip diantara
awan yang menari-nari dibirunya langit lazuardi. Awan hitam kini tersapu dan
sedikit demi sedikit memudar pada waktunya. Satu.. dua.. tiga… Dalam hitungan
detik, mentari telah berkuasa di jagat raya dengan anggun nan eloknya.
“Keren!!!” spontanitas terlontar dari dalam lumbuk hati sambil mengucap
“Alhamdulillah..” rasa syukur atas segala kesempatan untuk menghiup kembali
udara dipagi ini. Berikrar pada penguasa jiwa untuk berjalan mengikuti berkas
sudut cahaya yang mungkin masih semu dan belum sempurna adanya. Mulai melangkah
melalui titik ini dan berusaha menemukan muara yang sungguh tak terbayangkan
betapa agungnya kuasa sang Illahi.
“1 message received” ku lihat layar
di handphone-ku dan mengotak-atiknya,
“Astagfirullah..”, hampir lupa kalo hari ini ada janji menemani sahabatku ke
laboraturium magnetic. Tanpa berpikir
panjang aku langsung bergegas mandi dan siap-siap untuk pergi. Tiga puluh menit
kemudian “tet..tet..tet…” suara tlakson motor berbunyi, terbesit di pikiranku
“Horee permainan segara dimulai.”
***
Deg-degan
bercampur dengan rasa cemas saat pertama kali masuk ruangan ini, disambut oleh
bau yang sangat menyengat yang tak biasa ku temui di sekitar kampusku. Tempat
ini begitu hidup dan bergembira karena hamper tiap hari dikunjungi
mahasiswa-mahasiswa yang akan merajut mimpinya melalui penelitian-penelitian.
Satu dua langkah kaki ini berusaha memasuki lorong ruangan. Terlihat di kanan
kiri diriku berdiri, tumpukan benda-benda bisu yang tak ku ketahui untuk apa
mereka semua. Tiba-tiba rasa pegal menyerang kakiku, aku mencari-cari sesuatu
yang mungkin bisa membantuku. Alhamdulillah di samping tempatku berdiri terdapat
meja kerja dan kemudian di situlah aku duduk bersama sahabatku. Ku mulai
mengeluarkan isi dalam tasku, ku ambil laptop dan mencoba connect dengan wifi
sementara sahabatku sedang menyelesaikan penelitiannya. Rasa penasaranku tak
cukup berhenti disini, ketika mata tertuju lurus kedepan dengan sudut 180
derajat, mata ini terpana dan sedikit tergentak saat menemukan ada baris-baris
tulisan yang tertempel denagn damainya di bilah kayu triplek. Tulisan tersebut
berbunyi…
to
hear is to forget
to
see is to remember
to
do is to understand
to
elaborate is to be master
to
communicate is to build self confidence
to
give experience is the best of all..
Hati
serasa gelisah setelah membaca tulisan itu yang diikuti oleh ketidakmampuan
badanku untuk menahan rasa lemas dan segertak terpukul. Aku sadar dan
mengingat-ingat apa yang selama ini aku lakukan.. dan ternyata….. Sejenak aku merenung dan berfikir, selama ini
aku hanya berdiam diri, mendengarkan penjelasan orang-orang tanpa berusaha
untuk mengutarakan apa yang ada difikiranku. Bagaimana bisa maju kalo hanya
seperti itu terus? Padahal sesuai dengan kalimat mutiara tersebut, mendengar
sejatinya hanya untuk melupakan. Apa yang salah dengan diriku? Karena takut
kah? Minderkah? Tidak tahuan?ataukah
karena malas? Hmmmmm sungguh akupun tak mengerti. Ingin rasanya seperti mereka
yang rajin dan selalu mencoba sesuatu yang baru. Sungguh kalimat yang ku baca
kali ini sangat super sekali dan membakar semangatku untuk bangkit. Tangan ini
mulai bergerak hingga mencoret-coret dan menobrak-abrik tulisan yang ada di
fikiranku sebagai awal permulaan mengutarakan isi hati, perasaan, dan pikiran
sebelum aku memulai mengutarakan pendapatku kepada orang lain.
Rasa
gundahku ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Perasaanku semakin
menjadi-jadi ketika mata ini berseser 5 derajad ke bawah dari titik focus
pertama, disitulah aku menemukan tulisan yang tak kalah megertak dari tulisan
yang pertama kali aku temukan. Mungkin tulisan tersebut dari face-nya tidaklah menarik karena hanya
tercetak di kerta A4 horizontal yang hanya berwarna putih pucat tanpa sentuhan
ornamen-ornamen gambar ataupun hiasan yang menyolok mata. Tapi dibalik
keserderhanaan tulisan tersebut terdapat makna yang luar biasa. Aku mengutip
kembali tulisan yang memukau tersebut.
“Kalau
seseorang berfikir terus, menurut fisikawan Helmholtz, dia akan mengalami tiga
fase. Pertama, fase inkubasi. Kedua, fase saturasi. Ketiga, face pencerahan.
Jadi setelah jenuh sekali, dia tercerahkan. Pada masa pencerahan itu bias
keluar ide luar biasa yang bias terucapkan tanpa sadar.”
Aku
percaya tulisan tersebut tidak hanya sebatas tulisan yang hanya tertempel kaku
dipapan teriplek saja, melainkan mempunyai banyak arti bagi orang yang mungkin
sedang terpuruk.
***
SEMANGAT
SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT
Ernawati
Berusaha Menjadi Teman Sejati J
Berusaha Menjadi Teman Sejati J
No comments:
Post a Comment