Sunday, 3 March 2013

Coretan


Lab fisika, 27 February 2013
***
            Sinar mentari mengintip diantara awan yang menari-nari dibirunya langit lazuardi. Awan hitam kini tersapu dan sedikit demi sedikit memudar pada waktunya. Satu.. dua.. tiga… Dalam hitungan detik, mentari telah berkuasa di jagat raya dengan anggun nan eloknya. “Keren!!!” spontanitas terlontar dari dalam lumbuk hati sambil mengucap “Alhamdulillah..” rasa syukur atas segala kesempatan untuk menghiup kembali udara dipagi ini. Berikrar pada penguasa jiwa untuk berjalan mengikuti berkas sudut cahaya yang mungkin masih semu dan belum sempurna adanya. Mulai melangkah melalui titik ini dan berusaha menemukan muara yang sungguh tak terbayangkan betapa agungnya kuasa sang Illahi.
            “1 message received” ku lihat layar di handphone-ku dan mengotak-atiknya, “Astagfirullah..”, hampir lupa kalo hari ini ada janji menemani sahabatku ke laboraturium magnetic. Tanpa berpikir panjang aku langsung bergegas mandi dan siap-siap untuk pergi. Tiga puluh menit kemudian “tet..tet..tet…” suara tlakson motor berbunyi, terbesit di pikiranku “Horee permainan segara dimulai.”
***
Deg-degan bercampur dengan rasa cemas saat pertama kali masuk ruangan ini, disambut oleh bau yang sangat menyengat yang tak biasa ku temui di sekitar kampusku. Tempat ini begitu hidup dan bergembira karena hamper tiap hari dikunjungi mahasiswa-mahasiswa yang akan merajut mimpinya melalui penelitian-penelitian. Satu dua langkah kaki ini berusaha memasuki lorong ruangan. Terlihat di kanan kiri diriku berdiri, tumpukan benda-benda bisu yang tak ku ketahui untuk apa mereka semua. Tiba-tiba rasa pegal menyerang kakiku, aku mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa membantuku. Alhamdulillah di samping tempatku berdiri terdapat meja kerja dan kemudian di situlah aku duduk bersama sahabatku. Ku mulai mengeluarkan isi dalam tasku, ku ambil laptop dan mencoba connect dengan wifi sementara sahabatku sedang menyelesaikan penelitiannya. Rasa penasaranku tak cukup berhenti disini, ketika mata tertuju lurus kedepan dengan sudut 180 derajat, mata ini terpana dan sedikit tergentak saat menemukan ada baris-baris tulisan yang tertempel denagn damainya di bilah kayu triplek. Tulisan tersebut berbunyi… 
to hear is to forget
to see is to remember
to do is to understand
to elaborate is to be master
to communicate is to build self confidence
to give experience is the best of all..
Hati serasa gelisah setelah membaca tulisan itu yang diikuti oleh ketidakmampuan badanku untuk menahan rasa lemas dan segertak terpukul. Aku sadar dan mengingat-ingat apa yang selama ini aku lakukan.. dan ternyata…..  Sejenak aku merenung dan berfikir, selama ini aku hanya berdiam diri, mendengarkan penjelasan orang-orang tanpa berusaha untuk mengutarakan apa yang ada difikiranku. Bagaimana bisa maju kalo hanya seperti itu terus? Padahal sesuai dengan kalimat mutiara tersebut, mendengar sejatinya hanya untuk melupakan. Apa yang salah dengan diriku? Karena takut kah?  Minderkah? Tidak tahuan?ataukah karena malas? Hmmmmm sungguh akupun tak mengerti. Ingin rasanya seperti mereka yang rajin dan selalu mencoba sesuatu yang baru. Sungguh kalimat yang ku baca kali ini sangat super sekali dan membakar semangatku untuk bangkit. Tangan ini mulai bergerak hingga mencoret-coret dan menobrak-abrik tulisan yang ada di fikiranku sebagai awal permulaan mengutarakan isi hati, perasaan, dan pikiran sebelum aku memulai mengutarakan pendapatku kepada orang lain.
Rasa gundahku ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Perasaanku semakin menjadi-jadi ketika mata ini berseser 5 derajad ke bawah dari titik focus pertama, disitulah aku menemukan tulisan yang tak kalah megertak dari tulisan yang pertama kali aku temukan. Mungkin tulisan tersebut dari face-nya tidaklah menarik karena hanya tercetak di kerta A4 horizontal yang hanya berwarna putih pucat tanpa sentuhan ornamen-ornamen gambar ataupun hiasan yang menyolok mata. Tapi dibalik keserderhanaan tulisan tersebut terdapat makna yang luar biasa. Aku mengutip kembali tulisan yang memukau tersebut.
“Kalau seseorang berfikir terus, menurut fisikawan Helmholtz, dia akan mengalami tiga fase. Pertama, fase inkubasi. Kedua, fase saturasi. Ketiga, face pencerahan. Jadi setelah jenuh sekali, dia tercerahkan. Pada masa pencerahan itu bias keluar ide luar biasa yang bias terucapkan tanpa sadar.”
Aku percaya tulisan tersebut tidak hanya sebatas tulisan yang hanya tertempel kaku dipapan teriplek saja, melainkan mempunyai banyak arti bagi orang yang mungkin sedang terpuruk.
***
SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT

Ernawati
Berusaha Menjadi Teman Sejati
J

No comments:

Post a Comment